CATATAN KELUARGA RASULULLAH S*A*W

widgets

10 kebiasaan buruk menimpa otak kita

10 Kbiasaan Buruk Yang Merusak Otak Kbiasan buruk yang kita lakukan se hari-hari dan tanpa kita sadari ter nyata dapat menimbulkan dampak ngatif trhadp kesehatan kita, salah satu terhadap organ alat pikir kita yaitu otak. Nah kira-kira apa saja ke biasaan buruk yang dapat merusak otak kita, simak artikelnya berikut ini : 1. Tidak Sarapan Pagi Jika tidk sarapn pagi. Kadr gula akan rendh, akibatnya suplai nutrisi ke otak jadi berkurang. 2. Makn Terlalu Banyak Terllu bnyak makn brakibat menge rasnya pembuluh darh otak karena penimbunan lemak pada dinding pmbuluh darh sehingga kmampuan kerja otak akan menurun / enggan berpikir 3. Mrokok Zat dalam rokok yg terhisap akan mengakibatkan penyusutan otak scara cepat, serta dpt mngakibatkn pnykit Alzheimer / pikun 4. Mengkonsumsi gula trllu banyak Konsumsi gula terlalu bnyk akan menyebabkan terganggunya penyerapan protein dan nutrisi, se hingga terjadi ketidak kseimbangn gizi yg akn mnggnggu prkembngn otak 5. Polusi Udara Otak adalah konsumen oksigen terbesar dalam tubuh manusia. Mnghirup udara yg berpolusi menurunkan supai otak sehingga mnurunkn efisiensi otak. 6. Kurang Tidur Otak memerlukan tidur sebagai saat beristirahat dan mmulihkn kmmpuannya. Kkurangn tidur dalam jngka waktu yng lama akan mempercepat kerusakan sel-sel otak 7. Menutup Kepala Saat Tidur Kebiasaan tidur dgn menutup kepala meningkatkan konsentrasi zat karbondioksida dan mnurunkn konsentrasi zat oksigen yang dapat menimbulkan efek kerusakan pada otak 8. Menggunakan pikiraan Saat Skit Bkerja trllu kras atau mmksakn berpikir disaat sedang sakit dapat mnyebbkn brkurangnya efektiivitas otak serta dapat merusak otak. 9. Kurng Menstimulasi Pikiran Berpikit adalah cara yang paling tepat untk melatih otak, kurangnya stimulisasi pd otk dpt mnyebbkn mngkrutnya otak kita. 10. Jarang Brkomunikasi Komunikasi diperlukan sbagai salah satu sarana memacu kemampuan kerja otak. Berkomunikasi secara intelektual dapat memicu efisiensi otak

Kurng lbih keterangan sebagian hadits

Adapun sujud tilawah ada dua hadits yang menjelaskannya, tapi keduanya adalah hadits dho ’if (lemah). Satu : Hadits Aisyah -radhiyallahu ‘anha- : َناَك
ُلْوُسَر
ِهللا ىَّلَص
ُهللا
ِهْيَلَع
ِهِلآَو
َمَّلَسَو
ُلْوُقَي ْيِف
ِدْوُجُس
ِنآْرُقْلا
ِلْيَلْلاِب
َدَجَس
ْيِهْجَو
ْيِذَّلِل
ُهَقَلَخ
َّقَشَو
ُهُعْمَس
ُهُرَصََبَو
ِهِلْوَحِب
ِهِتَّوُقَو “
Adlh Nabi saw beliau mmbaca dari sujud Al- Qur ’an (sujud tilawah-pent.) pada mlam hari : Telah sujud wajahku kepada Yng Mnciptaknku, maka bratlh pendengaran dan penglihatan karena kemampuan dan keku atan-Nya ” . Dan dlm riwayat Hakim ada tambahan : “Maka Maha Berkah Allah sebaik-baik pencipta”. Dn dalam riwayat Ibnu Khuzaimah: Bliau mengu capkannya tiga kali “. Hadits ini diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahaway dalam Musnadnya 3 /965 no.1679,Ibnu Abi Syaibh dalam AlMushonnaf 1/380 no.4372 , Ahmad dlm Musnadnya 6 /30 , Tirmidzy 2 /474 no.580 dan 5 /456 no.3425 , An-Nasai 2 /222 no.1129 dan Al-Kubro 1 /239 no.714 , Abu Ahmad Al Hakim dalm Syi ’ar Ashhabul Hdits.no.82,83,Ibnu Khuzaimh 1 / 382 , Hakim 1 / 341-342 , Ad-Daraquthny 1 /406 , Al-Baihaqy 2/325, Abu Syaikh Al Ashbahany dlm AthThobaqat 3 /513 dan Ath-Thobarany dlam Al-Ausath 4/9 no.4376. Semua meriwayatkn hadits ini dari jln Khalid bin Mihran Al-Hadzdza` dr Abul ’Aliyah dari’Aisyah. Cacat yg menyebabkan hadits ini lemh adlh Khalid bin Mihran tidak mendengar dari Abul ’Aliyah. Brkata Imam Ahmad : “Khalid tidak mndngar dari Abul’Aliyah . Baca : Tahdzib AtTahdzib dn Jami’At-Tahshil karya Al- ˜Ala`i. Dan Ibnu Khu zaimah dlam Shohihnya mene gaskan bahwa sbnrnya antara Khalid dan Abul ’Aliyah ada perantara yaitu seorang rowi mubham (seorang lelaki yang tidak disebut namanya-pen. ). Saya brkata : Apa yang disebut kan oleh Imm Ahmad dn Ibnu Khuzaimah ini memang benar krena Khalid bin Mihran dari se luruh referensi yang disbutkan di atas ia meriwa yatkan dari Abul 'Aliyah dngan lafadz’An (dari) sehingga riwayat Khalid ini dianggp terputus dari Abul ’Aliyah apabila telah terbukti ada riwayat lain menyebutkan ada prantara antra Khalid dgn Abul ’Aliyah. Dan ternyta ada riwayt dari jalan’ Isma’il bin’Ulayyah dari Khalid bin Mihran dari seorang lelaki dari Abul ’ Aliyah dari’Aisyah - r.a Riwyt Isma’il bin Ulayyah ini dikeluarkan oleh Ahmad dlam Musnadnya 6 /217 , Abu Daud 2 /60 no. 1414 , Ibnu Khuzaimah 1/283dn AlBaihaqy dalam Al-Kubro 1/325 dan As- Sughro 1/509. Maka bisa disim pulkan bahwa hadits’ Aisyah ini adalah hadits yang lemah karena Khalid tidak mndengar dari Abul ’Aliyah dan prantra antara keduanya adlh seorang rawi mubham. Karena itulah hadits ini disbutkn oleh Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi ’y - rahimahullahu- dalam Ahadits Mu ’allah Zhohiruha Ash- Shihhah hadits no. 395. Kedua Hdits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma-َأَرَق
ُّيِبَّنلا
ىَّلَص ُهللا
ِهْيَلَع
ِهِلآَو
َمَّلَسَو
ًةَدَجَس
َّمُث َدَجَس
ُهُتْعِمَسَف
َوُهَو
ُلْوُقَي
َّمُهَّللا
ْبُتْكا ْيِل
اَهِب
َكَدْنِع
اًرَجَأ
ْعَضَو
ْيِّنَع اَهِب
اًرْزِو
اَهْلَعْجاَو
ْيِل َكَدْنِع
اًرَخَذ
اَهْلَّبَقَتَو
ْيِّنِم اَمَك
اَهَتْلَّبَقَت
ْنِمَكِدْبَع
َدُواَد “ Nabi
shalallahu ‘alaihi wa salam membaca satu ayat dari ayat- ayat sajadah lalu beliau sujud kmudian bliau mmbca doa:“ Wahai Allah tulislah untukku dngnnya disisiMu sbagai phala dan letakkanlah dariku dgnnya dosa dan jadikanlah untukku disisiMu sbagai modal dan teri malah driku sbgaimna Engkau menerima dari hambMu (Nabi) Daud “. Hadits ini diriwytkan oleh Tirmidzy 2 /472 no.549 dan 5/455-456 no.3424 , Ibnu Majah 1 /334 no.1053 , Ibnu Khuzaimah /282-283 no. 572-573 , Ibnu Hibban sebgaimana dalam Al-Ihsan 6/473 no.2568 dan Al-Mawarid no. 691 , Al-Hakim 1 /341 , Al- Baihaqy 2 /320 , Abu Ahmad Al-Hakim dalam Syi ar Ashhabul hadits no.84 , Ath-Thobarany11 /104 no. 11262 , Al- â €˜ Uqoily dlm AdDuafa`1/242-243, Al Khalily dalam Al- Irsyad 1 / 353-354 dan Al- Mizzy dlam Tahdzib Al-Kamal 6 /314. Semuanya meri wayatkan dari jlan Muhammad bin Yazid bin Hunais dri Hasan bin Muhammd bin’Ubaidillah bin Abi Yazid brkata kepadaku Ibnu Juraij : “ Wahai Hasan, kakekmu’ Ubaidillah bin Abi Yazid mengabarkan kepadaku dari Ibnu ’Abbas” . Saya berkata : Dalam hadits ini ada dua cacat : 1. Muhammad bin Yazid bin Hunais. Abu Hatim berkomentar tentangnya : “ Syaikhun sholihun (Seorang Syaikh yang sholeh )”. Dan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats- Tsiqot maka rawi seperti ini tdk dipkai berhujjah kalau bersendirian karena itu Al-Hafidz menyimpulkan dari Taqrib At- Tahdzib : “Maqbul (diterima haditsnya kalau ada pendukungnya, klau tidak ada pendukungnya ia adlh layyinul hadits (lembek haditsnya ) 2. Hasan bin Muhmmad bin Ubai dillah. Adz-Dzahaby brkomntr tentangnya : Berkata Al-Uqoily : “laa yutaba’u’ alaihi (Ia tidak mempunyai pendukung) ” dan berkata yang lainnya : “ Padanya (Hasan bin Muham mad)ada Jahalah(tdk dikenal ). Maka rawi ini juga tidk dipakai berhujjah kalau bersendirian.. Apalagi Imam At-Tirmidzy me nganggp bhw hdits ini adalah hadits ghorib. Dn istilah hadits ghorib mnurt Imm AtTirmidzy adalah hadits lemah. Wallahu A ’lam. Kesimpuln: Tidak ada hadits yng shohih tentang doa sujud tilawah maka kalau sese orang membaca ayat dri ayat- ayat sajadah dalam sholat ke mudian ia sujud maka ia mem baca doa seperti yang ia baca dalam sujud sholat. Ini meru pakan pendapat Imam Ahmad sebagaimana dalam AlMughny 2 /362 dn Masail Imam Ahmad riwayt Ibnu Hany 1/98. Adpun kalau sujud tilawahnya di luar sholat maka tidak ada syariat mmbaca doa apapun. Wallahu A ’lam. Adpun doa sujd shwi kmi tidak mengetahui ada doa yg khusus pda sujud sahwi ter sebut mungkin karna itu Imm Ibnu Qudamah brkata bahwa yg dibaca dalam sujud sahwi adalah sama dengan apa yang dibaca pada sujud sholat.

Ulama adalah pewaris Nabi

Ulama Pewaris Nabi Rasulullah ىلص ا هلل هيلع
ملسو bersabda نإ
ُءاَمُلُعْلا
ُةَثَرَو
ِءاَيِبْنَألْا ،
َّنِإ
َءَايِبْنَألْا
ْمَل
اْوُثِّرَوُي
اًرَانْيِد
َالَو
ًامَهْرِد
اَمَّنِإ
اْوُثَّرَو
َمْلِعْلا
ْنَمَف َذَخَأ
ِهِب ْدَقَف
َذَخَأ
ٍّظَحِب
ٍرِفاَو
Sesungguhnya ulama adlh pe waris para nabi. Sungguh para nabi tidak mwariskn dinar dan dirham. Sungguh mereka hnya mewariskn ilmu maka barang siapa mngambil warisn trsbut ia tlah mngambil bagian yang banyak. ” (Tirmidzi, Ahmad, Ad Darimi, ............Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani) Rasulullah
ىلص ا هلل هيلع
ملسو bersabda
َّنِإ َهللا
َال ُضِبْقَي
َمْلِعْلا
ًاعاَزِتْنا
ُهُعِزَتْنَي
َنِم
ِدَابِعْلا ،
ْنِكَلَو
ِضْبَقِب
ِءَامَلُعْلا.
ىَّتَح اَذِإ
ْمَل ِقْبُي
ًامِلَاع
َذَخَّتا
ُساَّنلا
ًاسْوُؤُر
ًالاَّهُج
اوُلِأُسَف
اْوَتْفَأَف
ِرْيَغِب
ٍمْلِع
اوُّلَضَف
اوُّلَضَأَو
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan menca butnya dari hmba-hmba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengn diwaftknnya pr ulama shingga jika Allah tdk mnyisakan seorg alim pun, maka orng-orng me ngangkat pemimpin dari kala ngan orang-orang bodoh. Ke mudian mereka ditanya, mrka pun berfatwa tnpa dasar ilmu. Mereka sesat dn menyesatkan. (HR. Al- Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

periwayatan terbanyak. Abu Hurairah r.a

PERIWAYAT TRBANYAK Sahabat Rasulullah ىلص ا هلل
هيلع ملسو yang
paling banyak meriwayatkan
hadits ialh: Abu Hurairah 5374 hdits, Ibnu Umar 2630 hadits, Anas bin Malik 2286 hadits, Aisyah 2210 hdits, Ibnu Abbas 1660 hdits, Jabir bin Abdullah 1540hdits, Abu Sa'id Al-Khudri 1170 hadist, Ibnu Mas'ud 848 hadits, Ibnu 'Amr bin Ash 700 hdits, Abu Dzarr Al- Ghifari 281 hadits, Abu Darda' 179 hadits (Talqih fahum ahli ~~~al.atsar karya Ibn Jauzi) ~~~Rasulullah ىلص ا
هلل هيلع ملسو
bersabda ُرْيَخ
ِساَّنلا
ْيِنْرَق
َّمُث
َنْيِذَّلا
ْمُهَنْوُلَي
َّمُث
َنْيِذَّلا
ْمُهَنْوُلَي
“ Sebaik-baik manusia adalh gnerasiku (para shabat) kemu dian generasi berikutnya (tabi ’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’ttabi’in )” (Hadits Bukhari & Muslim) Imam Malik همحر
هللا telah berkata :
ُّلُك ٍرْيَخ
يِف ِعَابِتإ
ْنَم فَلَس َو
ُّلُك ٍّرَش
يِف
ِعَادِتْبإ
ْنَم ِفَلَخ
“Setiap kebaikan adalah apa- apa yang mengikuti para pen dahulu (salaf), dan setiap keje lekan adalh apa-apa yng diada adakan org kemudian (kholaf) dan “ Tidk akn baik akhir dari umat ini kecuali kembali berda sarkan perbaikan yg dilakukan oleh generasi prtma. Rsulullah ىلص
ا هلل هيلع ملسو
bersabda “Akan senantiasa ada d antra ummtku skelmpok orang yang tampil membela kebenaran, tidak membahaya kan mereka orang-orang yang menelantarkan mrka sehingga datang (hari Kiamat) ktetapan Allah, sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian. ” ( Hadits Muslim)

Salafi, kenapa dengan Assalafi?

Sesungguhnya kata kata “as Salaf” ma`ruufun (sangat dikenal) dalam bahasa `arab dan di dalam syari`at ini, yang terpenting bagi kita disini adalah pembahasannya dari sisi syari`at. Sesungguhnya telah shohih dari pada Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau `Alaihi wa Sallam pernah berkata kepada anaknya Faathimah radhiallahu `anha sebelum beliau `Alaihi wa Sallam wafat : ((فاتقي الله واصبري، فإنه نعم السلف أنا لك……)). رواه مسلم (2450) (98). Artinya : “ Bertaqwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya sebaik baik “ salaf ” bagi kamu adalah saya …”[1] Penggunaan kalimat ‘salaf” sangat ma`ruf dikalangan para `ulama salaf dan sulit sekali untuk dihitung dan diperkirakan, cukup bagi kita satu contoh dari sekian banyak contoh contoh yang digunakan oleh mereka dalam rangka untuk memerangi bid`ah bid`ah. كل خير في اتباع من سلف وكل شر في ابتداع من خلف “ Setiap kebajikan itu adalah dengan mengikuti orang salaf dan setiap kejelekan tersebut adalah yang diada adakan oleh orang khalaf” . Ada sebahagian orang yang menda`wakan memiliki `ilmu, mengingkari penisbahan kepada “ salaf” , dengan da`waan bahwa nisbah ini tidak ada asalnya. Dia berkata : “ Tidak boleh bagi seseorang muslim untuk mengatakan saya seorang “ salafiy,” seolah olah dia mengatakan juga : “Tidak boleh bagi seseorang mengatakan saya muslim yang mengikuti para “salafus shoolih” dengan apa apa mereka di atasnya dalam bentuk `aqidah, `ibadat dan akhlaq.” Maka tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran seperti ini kalau benar benar dia ingkari, sudah tentu diwajibkan juga bagi dia untuk berlepas diri dari Islam yang benar, yang telah dijalani oleh para “salafus shoolih”, Rasuulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam telah mengisyaratkan dalam hadist hadist yang mutawaatir diantaranya : ((خير أمتي قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم)). Artinya : “ Sebaik baik ummat saya adalah yang hidup sezaman dengan saya (sahabatku), kemudian orang orang yang mengikuti mereka (at Taabi`uun), kemudian orang orang yang mengikuti mereka (at Baaut Taa`bi`iin)…. ”[2] Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari penisbahan kepada as Salafus Shoolih, sebagaimana kalau seandainya berlepas diri juga dari penisbahan yang lainnya, tidak mungkin bagi seorang ahli `ilmu untuk menisbahkannya kepada kekufuran atau kefasikan. Orang yang mengingkari penamaan seperti ini (nisbah kepada “salaf”). Apakah kamu tidak menyaksikan, bukankah dia menisbahkan dirinya kepada satu madzhab dari sekian madzhab yang ada?, apakah madzhab ini berhubungan dengan `aqidah atau fiqh. Sesungguhnya dia mungkin Asy`ariy, Maaturiidiy dan mungkin juga dia dari kalangan ahlul hadist atau dia Hanafiy, Syaafi`ii, Maalikiy atau Hanbaliy diantara apa apa yang termasuk kedalam penamaan ahlus Sunnah wal Jamaa`ah, padahal seseorang yang menisbahkan dirinya kepada madzhab asy`Ariy atau kepada madzhab yang empat, sebenar dia telah menisbahkan dirinya kepada pribadi pribadi yang bukan ma`suum tanpa diragukan, walaupun diantara mereka ada juga para `ulama yang benar, alangkah aneh dan sangat mengherankan sekali, kenapa dia tidak mengingkari penisbahan kepada pribadi yang tidak ma`suum ini??? Adapun seorang yang mengintisabkan dirinya kepada “as Salafus Shoolih”, sesungguhnya dia telah menyandarkan dirinya kepada seseorang yang ma`suum secara umum (yang dimaksud Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam), Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam telah menyebutkan tentang tanda tanda “al Firqatun Naajiyyah” yaitu seseorang yang berpegang teguh dengan apa yang Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam dan para shohabatnya ada di atasnya, maka barang siapa yang berpegang teguh dengan jalan mereka secara yaqin, dia betul betul berada di atas petunjuk Robnya. Nisbah kepada “as Salaf” ini merupakan nisbah yang akan memuliakan seseorang menisbahkan dirinya kepadanya, kemudian memudahkan baginya untuk mengikuti jalan kelompok orang yang selamat tersebut, tidak sama dengan seseorang yang menisbahkan dirinya kepada nisbah yang lain, karena penisbahan itu tidak akan terlepas dia diantara dua perkara : Pertama, dia mungkin meng-intisabkan dirinya kepada seseorang yang bukan ma`suum, atau kepada orang orang yang mengikuti manhaj (methode) orang yang bukan ma`suum ini, yang tidak ada sifat suci baginya, berbeda dengan shahabat Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam yang memang diperintahkan kita oleh Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam untuk berpegang teguh dengan sunnah (cara/ methode)nya dan sunnah para shahabatnya setelah beliau wafat. Dan kita akan terus menerus menganjurkan dan menerangkan agar pemahaman kita terhadap al Quraan dan as Sunnah benar benar sesuai dengan pemahaman para shahabatnya Shollallahu `alaihi wa Sallam, supaya kita terjaga daripada berpaling dari kanan dan kekiri, juga terpelihara dari penyelewengan pemahaman yang khusus, sama sekali tidak ada dalil yang menunjukan atas pemahaman itu dari Kitaabullahi Subhaana wa Ta`aalaa dan Sunnah RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam. Kemudian, kenapa tidak cukup bagi kita untuk menisbahkan diri kepada al Quraan as Sunnah saja? Jawabannya kembali kepada dua sebab : Pertama : Berhubungan dengan nash nash syar`ii. Kedua : Melihat kepada keadaan firqoh firqoh (golongan golongan) islaamiyah pada sa`at ini. Ditinjau dari sebab yang pertama : kita menemukan dalil dalil syar`ii memerintahkan untuk menta`ati sesuatu yang lain disandari kepada al Kitab dan as Sunnah, sebagaimana dikatakan oleh Allah Ta`aalaa : ((يأيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولى الأمر منكم….)) النساء (59). Artinya : “ Hai orang orang yang beriman, tha`atilah Allah dan tha`atilah RasulNya, dan ulil amri diantara kalian . ” An Nisaa` (59). Kalau seandainya ada waliyul amri yang dibai`at dikalangan kaum muslimin maka wajib untuk mentha`atinya sebagaimana kewajiban mentha`ati al Kitab dan as Sunnah, bersamaan dengan demikian kadang kadang dia salam serta orang orang disekitarnya, namun tetap wajib mentha`atinya dalam rangka mencegah kerusakan daripada perbedaan pandangan pandangan yang demikian dengan syarat yang ma`ruuf, demikian disebutkan dalam hadist yang shohih : ((لا طاعة في معصية إنما الطاعة في المعروف)). Artinya : “ Tidak ada ketha`atan di dalam ma`shiat, sesungguhnya ketha`atan itu hanya pada yang ma`ruuf .”[3] Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa berkata : ((ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا)). النساء:(115). Artinya : “ Barang siapa menyakiti ( menyelisihi) as Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam setelah sampai ( jelas) kepadanya hudan (petunjuk), lalu dia mengikuti bukan jalan orang mu`minin (para shahabat), kami akan palingkan dia kemana sekira kira dia berpaling, lalu kami akan masukan dia keneraka jahannam yang merupakan sejelek jelek tempat baginya .” An Nisaa (115). Sesungguhnya Allah `Azza wa Jalla Maha Tinggi dan Maha Suci Dia dari sifat kesia sia-an, tidak diragukan dan disangsikan lagi bahwasanya penyebutan jalan orang mu`miniin pada ayat ini sudah tentu ada hikmah dan faedah yang sangat tepat, yaitu; bahwasanya ada kewajiban yang penting sekali tentang pengikutan kita kepada Kitaabullahi Subhaana wa Ta`aalaa dan Sunnah RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam wajib untuk dicocokan dengan apa apa yang telah dijalani oleh orang muslimiin yang pertama dikalangan ummat ini, mereka adalah shahabat Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam; kemudian orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, inilah yang selalu diserukan oleh ad Da`watus Salafiyyah, dan apa apa yang telah difokuskan dalam da`wah tentang asas asas dan tarbiyahnya. Sesungguhnya “ad Da`watus Salafiyyah”-merupakan satu satunya da`wah yang haq untuk menyatukan ummat ini, sementara apapun bentuk da`wah yang lain hanya memecah belah ummat ini; Allah `Azza wa Jalla berkata : ((وكونوا مع الصادقين)). التوبة (119). Artinya : “ Hendaklah kamu bersama orang orang yang benar .” At Taubah ( 119) , dan barangsiapa yang membedakan diantara al Kitaab dan as Sunnah disatu sisi, dan antara “as Salafus Shoolih disisi yang lainnya dia bukan seorang yang jujur selama lamanya. Ditinjau dari sebab yang kedua : Kelompok kelompok dan golongan golongan pada hari ini sama sekali tidak menghadap secara muthlaq untuk mengikuti jalan orang mu`miniin (jalan para shahabat radhiallahu `anhum) seperti yang disebutkan pada ayat diatas, dan dipertegas lagi dengan sebahagian hadist hadist yang shohih diantaranya : hadist al firaq (mengenai perpecahan) menjadi tujuh puluh tiga gologan, yang keseluruhannya di neraka kecuali satu, Rasuulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam telah menjelaskan tentang sifatnya bahwasanya dia : “هي التي على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي.” Artinya : “ Dia (al Firqatun Naajiyyah) itu adalah sesuai dengan apa apa yang saya hari ini dan para shahabat saya. ”[ 4 ] Dan hadist ini serupa dengan ayat diatas menyebutkan jalan orang mu`miniin, diantaranya juga hadist al `Irbaadh bin Saariyah radhiallahu `anhu : “فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي”. Artinya : “ Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah dan Sunnah al Khulafaaur Raasyidiin al Mahdiyiin setelah saya .”[5] Jadi dihadist ini menunjukan dua Sunnah : Sunnatur Rasuul Shollallahu `alaihi wa Sallam dan Sunnatul Khulafaaur Raasyidiin. Diwajibkan bagi kita-akhir ummat ini- untuk kembali kepada al Kitaab dan as Sunnah dan jalan orang mu`miniin (as Salafus Shoolih), tidak dibolehkan bagi kita mengatakan: kita akan memahami al Kitab dan as Sunnah secara bebas ( merdeka) tanpa meruju` kepada pemahaman “ as Salafus Shoolih !!” Dan wajib adanya penisbahan yang membedakan secara tepat pada zaman ini, maka tidak cukup kita katakan : saya muslim saja!, atau madzhab saya adalah al Islam!, padahal seluruh firqah firqah yang ada mengatakan demikian : ar raafidhiy (as Syii`ah) dan al ibaadhiy (al Khawaarij/Firqatut takfiir) dan al qadiyaaniy (Ahmadiyyah) dan selainnya dari firqah firqah yang ada!!, jadi apa yang membedakan kamu daripada mereka keseluruhannya?? Kalau kamu mengatakan : saya muslim mengikuti al Kitab dan as Sunnah juga belum cukup, karena pengikut pengikut firqah firqah yang sesat juga mengatakan demikian, baik al `Asyaairah dan al Maaturiidiyyah dan kelompok kelompok yang lain- keseluruhan pengikut mereka juga menda`wakan mengikuti yang dua ini ( al Kitab dan as Sunnah). Dan tidak diragukan lagi adanya wujud penisbahan yang jelas lagi terang yang betul betul membedakan secara nyata yaitu kita katakan : “Ana muslim mengikuti al Kitab dan as Sunnah di atas pemahaman “as Salafus Shoolih,” atau kita katakan dengan ringkas : “Ana Salafiy.” Dan diatas inilah; sesungguhnya kebenaran yang tidak ada penyimpangan padanya bahwasanya tidak cukup bersandarkan kepada al Kitab dan as Sunnah saja tanpa menyandarkan kepada methode pemahaman “as Salaf” sebagai penjelas terhadap keduanya dalam sisi pemahaman dan gambaran, al `ilmu dan al `amal, ad Da`wah serta al Jihad. Kita mengetahui bahwasanya mereka- radhiallahu `anhum- tidak pernah fanatik kepada madzhab tertentu atau kepada pribadi tertentu, tidak terdapat dikalangan mereka ada mengatakan : “ Bakriy (pengikut Abu Bakr), `Umariy ( pengikut `Umar), `Utsmaaniy (pengikut `Utsman), `Alawiy (pengikuti `Ali) radhiallahu `anhum ajma`iin, bahkan salah seorang dari kalangan mereka apabila memudahkan baginya untuk bertanya kepada Abu Bakr atau `Umar atau Abu Hurairah dia akan bertanya; yang demikian itu dikarenakan mereka betul betul yaqin bahwasanya tidak dibolehkan meng-ikhlashkan “ittibaa`” (pengikutan) kecuali pada seorang saja, ketahuilah dia adalah Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam; dimana beliau tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya melainkan wahyu yang diwahyukan padanya. Kalau kita terima bantahan para pengeritik ini bahwasanya kita hanya menamakan diri kita “kami orang muslim”, tanpa menisbahkan kepada “ as Salafiyyah”-padahal nisbah itu merupakan nisbah yang mulia dan benar-, apakah mereka (para pengeritik) akan melepaskan dari penamaan dengan golongan golongan mereka, atau madzhab madzhab mereka, atau thoriiqah thoriiqah mereka- yang padahal penisbahan dan penyadaran itu bukan disyari`atkan dan tidak benar?!! فحسبكم هذا التفاوت بيننا وكل إناء بما فيه ينضح. Artinya : “Cukuplah bagi kalian perbedaan ini diantara kita Dan setiap bejana akan menuangkan apa apa yang ada padanya. Dan Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa yang Menunjuki kita ke jalan yang lurus, dan Dia-Subhaana wa Ta`aalaa- Yang Maha Penolong. Diterjemahkan oleh Abul Mundzir-Dzul Akmal as Salafiy Dari Majallah as Ashoolah (no.9 /86-90) , dengan judul : “Masaail wa Ajwibatuha.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq

Masih di edit

Umar bin Al-Khaththab

Untk kmbali ke halaman depan silahkan KLIK DISINI

Umar bin al-Khaththab (wafat 23 H) Nama lengkapnya adalah Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul Izzy bin Rabah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luay al-Quraisy al-‘Adawy. Terkadang dipanggil dengan Abu Hafash dan digelari dengan al-Faruq. Ibunya bernama Hantimah binti Hasyim bin al-Muqhirah al-Makhzumiyah. Awal Keislamanya. Umar masuk Islam ketika para penganut Islam kurang lebih sekitar 40 org terdiri dari laki- laki dan perempuan. Imam Tirmidzi, Imam Thabrani dan Hakim telah meriwayatkan dengan riwayat yang sama bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam telah berdo’a,” Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam .”. Berkenaan dengan masuknya Umar bin al-Khaththab ke dalam Islam yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad yang diungkap oleh Imam Suyuti dalam kitab “ Tarikh al-Khulafa’ ar-Rasyidin” sebagai berikut: Anas bin Malik berkata:” Pada suatu hari Umar keluar sambil menyandang pedangnya, lalu Bani Zahrah bertanya” Wahai Umar, hendak kemana engkau? ,” maka Umar menjawab, “ Aku hendak membunuh Muhammad .” Selanjutnya orang tadi bertanya:” Bagaimana dengan perdamaian yang telah dibuat antara Bani Hasyim dengan Bani Zuhrah, sementara engkau hendak membunuh Muhammad ”. Lalu orang tadi berkata,” Tidak kau tahu bahwa adikmu dan saudara iparmu telah meninggalkan agamamu ” . Kemudian Umar pergi menuju rumah adiknya dilihatnya adik dan iparnya sedang membaca lembaran Al-Quran, lalu Umar berkata, “ barangkali keduanya benar telah berpindah agama ”,. Maka Umar melompat dan menginjaknya dengan keras, lalu adiknya (Fathimah binti Khaththab) datang mendorong Umar, tetapi Umar menamparnya dengan keras sehingga muka adiknya mengeluarkan darah. Kemudian Umar berkata: “ Berikan lembaran (al-Quran) itu kepadaku, aku ingin membacanya ”, maka adiknya berkata.” Kamu itu dalam keadaan najis tidak boleh menyentuhnya kecuali kamu dalam keadaan suci, kalau engaku ingin tahu maka mandilah ( berwudhulah/bersuci) .”. Lalu Umar berdiri dan mandi (bersuci) kemudian membaca lembaran (al-Quran) tersebut yaitu surat Thaha sampai ayat, ” Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhanselain Aku, maka sembahlah Aku dirikanlah Shalat untuk mengingatku .” (Qs. Thaha:14). Setelah itu Umar berkata,” Bawalah aku menemui Muhammad.”. Mendengar perkataan Umar tersebut langsung Khabbab keluar dari sembunyianya seraya berkata:”Wahai Umar, aku merasa bahagia, aku harap do’a yang dipanjatkan Nabi pada malam kamis menjadi kenyataan, Ia ( Nabi) berdo’a “ Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam .”. Lalu Umar berangkat menuju tempat Muhammad Shallallahu alaihi wassalam, didepan pintu berdiri Hamzah, Thalhah dan sahabat lainnya. Lalu Hamzah seraya berkata ,” jika Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya dia akan masuk Islam, tetapi jika ada tujuan lain kita akan membunuhnya ”. Lalu kemudian Umar menyatakan masuk Islam dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Lalu bertambahlah kejayaan Islam dan Kaum Muslimin dengan masuknya Umar bin Khaththab, sebagaimana ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Mas’ud, seraya berkata,” Kejayaan kami bertambah sejak masuknya Umar. ”. Umar turut serta dalam peperangan yang dilakukan bersama Rasulullah, dan tetap bertahan dalam perang Uhud bersama Rasulullah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Suyuthi dalam “ Tarikh al-Khulafa’ar Rasyidin ”. Rasulullah memberikan gelar al-Faruq kepadanya, sebagaimana ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Dzakwan, seraya dia berkata,” Aku telah bertanya kepada Aisyah, “ Siapakah yang memanggil Umar dengan nama al-Faruq? ”, maka Aisyah menjawab “ Rasulullah ”. Hadist Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:” Sungguh telah ada dari umat-umat sebelum kamu para pembaharu, dan jika ada pembaharu dari umatku niscaya ‘ Umarlah orangnya ”. Hadist ini dishahihkan oleh Imam Hakim. Demikian juga Imam Tirmidzi telah meriwayatkan dari Uqbah bin Amir bahwa Nabi bersabda,” Seandainya ada seorang Nabi setelahku, tentulah Umar bin al-Khaththab orangnya .”. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ibnu Umar dia berkata,” Nabi telah bersabda:” Sesungguhnya Allah telah mengalirkan kebenaran melalui lidah dan hati Umar ”. Anaknya Umar ( Abdullah) berkata,” Apa yang pernah dikatakan oleh ayahku (Umar) tentang sesuatu maka kejadiannya seperti apa yang diperkirakan oleh ayahku ”. Keberaniannya Riwayat dari Ibnu ‘Asakir telah meriwayatkan dari Ali, dia berkata,” Aku tidak mengetahui seorangpun yang hijrah dengan sembunyi sembunyi kecuali Umar bi al-Khaththab melakukan dengan terang terangan ”. Dimana Umar seraya menyandang pedang dan busur anak panahnya di pundak lalu dia mendatangi Ka’bah dimana kaum Quraisy sedang berada di halamannya, lalu ia melakukan thawaf sebanyak 7 kali dan mengerjakan shalat 2 rakaat di maqam Ibrahim. Kemudian ia mendatangi perkumpulan mereka satu persatu dan berkata,” Barang siapa orng yg ibunya merelakan kmatiannya, anaknya menjadi yatim dn istrinya mnjadi janda, maka temuilah aku di blakang lembah itu . Ksaksian trsebut menunjukan keberanian Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu. Wafatnya Pada hari rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H ia wafat, ia ditikam ketika sedang melakukan Shalat Subuh beliau ditikam oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah budak milik al-Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar dimakamkan di samping Nabi dn Abu Bakar ash Shiddiq, beliau wfat dlm usia 63 tahun. Disalin dr Biografi Umar Ibn Khaththb dlm Tahbaqat Ibn Sa’ad, Tarikh al-Khulafa'ar Rasyidin Imm Suyuthi

TINGGALKAN JEMPOLMU DISINI YAAA
http://picasion.com/gl/1OgP/
UNTUKMU SAHABATKU

Sahabat titip senyum qu yaa.. Jika suatu saat kita bertemu, ku akan mengambilnya kembali, kemudian memberikannya lg untukmu, dengan penuh ke ikhlasan...

Lewat seorang sahabat yang mulia yaitu Sa'ad bin Abi Waqash radhiyallahu anhu, beliau berkata:
Pada saat kami bersama Rasulullah shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda: ''Apakah seseorang diantara kalian tidak mampu untuk mendapatkan 1000 kebaikan dalam sehari?'' Maka salah seorang yang duduk diantara kami bertanya: ''Bagaimana salah seorang diantara kami mendapatkan 1000 kebaikan?'' Beliau bersabda: ''Bertasbih 100 kali, niscaya ditulis baginya 1000 kebaikan atau dihapus darinya 1000 kesalahan'' - (Hadist Shahih Riwayat Muslim).